DALIL-DALIL PERIBADATAN DI MALAM NISFU SYA’BAN
Oleh: Musyrif M. Aditya Firdaus
Pada
hari ini, sebagaimana yang kita ketahui, telah berada di tanggal 14 di bulan
yang mulia, yakni bulan Sya’ban. Telah menjadi tradisi khususnya di Kalimantan
Selatan, malam ke-15 dari bulan Sya’ban seluruh masyarakat berbondong-bondong
ke masjid atau surau di sekitarnya demi menghidupi malam itu dengan serangkaian
ibadah. Ibadah yang dilakukan di antaranya adalah salat sunnah taubat, salat hajat, salat tasbih, dan membaca surah Yasin sebanyak tiga kali dengan
niat-niat tertentu. Hal ini biasa, namun sebagian ada yang mempermasalahkan
tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban ini. Sebagian saudara kita menganggap
hadis tentang keutamaan tersebut lemah sehingga tidak mau ikut menghidupi malam
nisfu ini. Apapun itu, perlu kita sadari, Sya’ban adalah bulan yang memiliki
keistimewaan tersendiri. Setidaknya ada dua peristiwa yang tercatat dalam
sejarah yang terjadi di bulan mulia ini.
Pertama,
di bulan Sya’ban khususnya tanggal 15 Sya’ban turun firman Allah (إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) yang merupakan perintah bershalawat kepada baginda Nabi saw.
sehingga Imam Syihabuddin al-Qasthalani berpendapat bahwasanya sebagian ulama
mengatakan bulan Sya’ban ini merupakan bulan shalawat kepada Nabi saw. Ibnu
Hajar al-Asqalani menyebut dari Abi Dzar al-Harawy bahwasanya perintah bershalawat
kepada Nabi saw. ini turun di tahun kedua Hijriyah.
Kedua,
khususnya di hari nisfu Sya’ban adalah pemindahan kiblat kaum Muslimin yang
terjadi di dalam shalatnya Nabi dan para Sahabat, yang awalnya di Baitul Maqdis
dipalingkan ke Baitullah, Kakbah. Hal ini tentu sangat bersejarah, sehingga
seorang mufassir terkenal Mesir Syekh Mutawalli Sya’rawi mengatakan hikmah
pemindahan kiblat itu terjadi di dalam shalat (dua rakaat pertama menghadap
Baitul Maqdis dan dua rakaat terakhir menghadap Baitullah) menunjukkan bahwa
Islam tetap menghormati Baitul Maqdis sebagai tempat yang disucikan. Hal ini
karena masalah kiblat ini menjadi ujian atau fitnah bagi orang kafir begitu pula
bagi kaum muslimin. Kaum Yahudi mengatakan tentang Nabi Muhammad saw. bahwasannya
meskipun agama Muhammad beda dengan kami (kaum Yahudi) tapi mengapa mereka
shalat menghadap kiblat kami, yakni Baitul Maqdis. Dan kaum Musyrik Mekkah
mengatakan tentang Nabi Muhammad saw. yang mengaku mengikut Nabi Ibrahim as. tapi
tidak menjadikan Kakbah sebagai kiblatnya, sehingga turunlah ayat tentang
pemindahan kiblat ini. Ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang moderat
yang tetap menghormati Baitul Maqdis dan memuliakan Baitul Allah.
Dalam
riwayat lain dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. ada empat malam yang di
dalamnya doa diijabah, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam nisfu Sya’ban, dan
malam dua hari raya. Imam Syafi’i ra. menambahkan malam Jum’at. As-Sayyid
Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam kitab beliau Abwabul Faraj, doa malam nisfu
Sya’ban ini banyak hadis yang menyebutkan keutamaannya.
روي
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال=يطلع الله الى جميع
خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع ) خلقه الالمشرك او مشاحن (رواه الطبرانى و ابن حبان في صحيحه
Termasuk hadis yang membicarakan keutamaannya adalah artinya: “Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: Allah memandang ke seluruh makhluk-Nya di malam nisfu Sya’ban. Maka Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik atau yang bermusuh-musuhan” (H.R. Thabrani dan Ibnu Hibban di Shahihnya)
Pada hadis lainnya disebutkan:
اتاني
جبريل عليه السلام فقال. هذه ليلة النصف من شعبان و لله فيها عتقاء من النار
بعدد شعور غنم الكلب. ولا ينظر الله فيها
الى مشرك ولا الى مشاحن ولا الى قاطع الرحم ولا الى مسبل ولا الى عاق لوالديه ولا
الى مدمن خمر
“Diriwayatkan
oleh Imam Baihaqi dari hadis Aisyah ra. Nabi saw. bersabda Jibril telah
mendatangiku kemudian ia berkata malam ini adalah malam nisfu Sya’ban di
dalamnya banyak orang yang dimerdekakan
oleh Allah dari neraka sebanyak bulu kambing
anjing dan Allah tidak memandang di malam itu kepada orang musyrik, orang yang
bermusuhan, dan orang yang memutus silaturahmi, dan orang yang memakai pakaian
di bawah mata kaki (karena sombong), dan orang yang durhaka kepada kedua orang
tuanya, dan orang yang meminum khamar. Dalam hadis yang dinukil oleh as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki ini
terdapat faedah bahwasannya Allah mengampuni hamba-Nya sebanyak jumlah bulu
kambing anjing. Kambing anjing adalah istilah masyarakat Arab untuk kambing
yang gemuk sehingga bulunya pun banyak yang membuat anjing-anjing atau serigala
berhasrat untuk memakannya sehingga disebut kambing anjing.”
Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Amr
ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda "Allah Azza Wa Jalla memandang kepada
makhluk-Nya di malam nisfu Sya’ban, maka Allah mengampuni hamba-hamba-Nya
kecuali dua, yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh."
Adapun
dalil mengenai menghidupkan malam nisfu Sya’ban ini juga disebutkan oleh
as-Sayyid Muhammad al-Maliki, yaitu riwayat dari Sayyidah Aisyah ra. beliau
berkata,
قام
رسول الله صلى الله عليه و سلم من اليل فصلى فاطال سجوده
حتى ظننت انه قد قبض فلما رايت ذلك
قمت حتى حركت ابهامه فتحرك فرجعت فسمعته يقول في سجوده. اعوذ بعفوك عن عقابك واعوذ
برضاك من سخطك واعوذ بك منك اليك لا احصي
ثناء عليك كما اثنيت على نفسكز فلما رفع رأسه
من السجود و فرغ من صلاته قال يا عائشة او يا حميراء
اظننت ان النبي صلى الله عليه وسلم قد خاس بك ؟ قلت لا والله ولكني ظننت انك قبضت لطول سجودك فقال اتدرين اي
ليلة هاذه.؟ قلت الله و رسوله اعلم. قال هذه ليلة النصف من شعبان ان الله غز وجل
يطلع على غباده في ليلة النصف من شعبان فيافر للمستغفرين ويرحم المسترحمين و يؤخر
اهل الحقد كما هم
“Nabi saw. bangun malam kemudian beliau shalat dan beliau memanjangkan sujud beliau
sehingga aku menyangka beliau telah wafat. Ketika aku melihat yang demikian itu
aku bangun dan aku gerakkan jempol beliau, kemudian beliau bergerak dan aku
kembali maka aku mendengar Nabi saw. berkata di dalam sujudnya "A’udzu bia’fika
min iqo bika wa a’udzu bi ridhoka min sakhotika wa a’udzu bika min ka ilaika la
ukhshi tsana an a’laika anta kama atsnaita ala nafsika", maka ketika beliau
mengangkat kepalanya dari sujud dan telah selesai dari shalat beliau bersabda, "ya Humairo apakah engkau menyangka bahwasannya Nabi saw. tidak menunaikan
hakmu? Aku berkata, "tidak, demi Allah tetapi aku menyangka bahwasannya engkau
telah wafat karena lamanya sujud engkau." Maka bersabda Nabi saw., "apakah engkau
tahu malam apa ini?" Aku berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau
bersabda, "malam ini adalah malam nisfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla
memandang kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu Sya’ban, maka Allah mengampuni
bagi orang yang beristighfar, mengampuni bagi orang yang meminta rahmat, dan
Allah mengakhirkan orang yang dengki (dari rahmat dan ampunan) sebagaimana
mereka (ahli dengki
tadi) mengakhirkan hubungannya dengan saudaranya." (Hadis ini diriwayatkan oleh
Imam Baihaqi dari jalan al-Ala Ibn al-Harits dari Sayyidah Aisyah dan beliau
mengomentari hadis ini mursal yang baik, yakni al-Ala tidak mendengar dari
Sayyidah Aisyah, wallahualam)
Hadis
lain yang diriwayatkan daripada Sayyidina Ali dari Nabi saw. beliau bersabda,
اذا
كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها و
صوموا يومها فان الله تبارك وتعالى ينزل
فيها لغروب الشمس الى السماء الدنيا فيقول الا من مستغفر فأغفر له؟ الا من مستزرق
فأرزقه ؟ الا من مبتلى فأعافيه ؟ الا كذا الا
كذا حتى تطلع الفجر (رواه ابن ماجه)
“Jikalau
telah tiba malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah malamnya dan berpuasalah di
siang harinya. Sesungguhnya Allah Tabarakawataala turun (rahmatnya) di malam
nisfu Sya’ban dari terbenam matahari ke langit dunia. Dia berfirman, "adakah yang
meminta ampunkan Aku ampuni dia?, adakah yang meminta rezeki akan Aku beri
rezeki dia?, adakah yang diberi cobaan (dengan penyakit)?, maka akan Aku sembuhkan
dia. Adakah yang demikian? demikian sampai terbit fajar." (Hadis Riwayat Ibnu
Majah dari Pasal Targhib jilid 2 halaman 160).
Hadis-hadis
di atas setidaknya menjadi hujjah atau
dalil bagi kaum muslimin yang melaksanakan peribadatan malam nisfu Sya’ban.
Sehingga kita tidak perlu ragu terhadap amaliyah yang dilakukan oleh
ulama-ulama kita dahulu. Perintah untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban ini
memang tidaklah terbatas pada satu ibadah melainkan makna qiyamul lail sendiri
adalah menghidupkan malam dengan berbagai macam jenis ibadah. Salah satunya
dengan salat-salat sunnah atau yang terkenal sekali di Kalimantan Selatan
pada malam ini adalah salat sunnah tasbih. Apakah ada dalilnya hal itu harus
dilakukan di malam
Adapun
yang sering menjadi perdebatan di masyarakat kita adalah apakah memang ada
salat nisfu Sya’ban? Mengingat jika merujuk dalam kitab Fathul Mu’in yang
menjadi pegangan dalam fiqih madzhab Syafi’i di Indonesia bahwa shalat nisfu
Sya’ban itu disebut bid’ah. Maksud bid’ah di sini adalah bukan peribadatan di
malamnya, namun melaksanakan salat dengan niat shalat nisfu Sya’ban sehingga
ini dinilai sebagai suatu bid’ah. Adapun kalau kita melaksanakan salat sunnah
mutlak yang dalam hal ini sebenarnya salat tasbih, salat hajat, itu juga
termasuk salat sunnah mutlak. Maka tidaklah menjadi suatu kebid’ahan. Sebagian
ulama menilai salat sunnah mutlak itu bisa dimasuki niat apa saja termasuk
niat salat nisfu Sya’ban, namun lebih baik dan lebih hati-hati bagi kita untuk
melaksanakan peribadatan malam nisfu Sya’ban sebagaimana yang diajarkan oleh
ulama-ulama kita, yaitu dalam rangkaian salat sunnah yang diniati untuk qobul
hajat, salat sunnah taubat, salat sunnaht tasbih dan
lain sebagainya.
Demikian
pula pembacaan surah Yasin di dalamnya, dengan niat-niat yang baik itu semua
tidak lain sebagai bentuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban itu sendiri
mengingat sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu nama bulan Sya’ban ini
adalah Syahrul Qur’an atau Syahrul Qurro’. Di dalam kitab Tadzkirunnas karya
Habib Ahmad bin Hasan al-Aththos
bahwa beliau menukil dari Sayyid Muhammad Murtadho az-Zabidi di dalam
mensyarahi kitab Ihya’ Ulumiddin bahwa termasuk amaliyah kaum salaf ialah
salat enam rakaat antara maghrib dan isya’ di malam nisfu Sya’ban. Tiap dua
rakaat sekali salam, dan membaca setelah Fatihah di setiap rakaat enam kali
surah al-Ikhlas, dan setelah salam dari tiap dua rakaat hendaknya membaca surah
Yasin dengan niat agar mendapat keberkahan umur, dan setelah salam dari dua
rakaat selanjutnya membaca surah Yasin dengan niat agar mendapat keberkahan
rezeki, dan setelah salam dari dua rakaat terakhir membaca surah Yasin dengan
niat mendapat husnul khatimah.
Maka
dari itu, sudah sepatutnya momentum malam nisfu Sya’ban ini menjadi pecut
penyemangat kita untuk menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan. Yah, hitung-hitung latihan tarawih dan puasa Ramadhan. Maka yang perlu diingat bagi
yang masih punya hutang puasa Ramadhan agar bisa melunasinya sebelum Ramadhan
tahun ini datang meskipun dilakukan di paruh akhir bulan Sya’ban. Adapun yang
haram berpuasa di paruh akhir bulan Sya’ban itu adalah bagi orang yang tidak
punya kebiasaan puasa tertentu, seperti Senin Kamis, maka dia haram berpuasa
mulai tanggal 16 hingga akhir Sya’ban. Terbiasa di sini batasnya paling tidak
sekali melaksanakan. Dan yang diharamkan
pula adalah bagi mereka yang puasa di paruh akhir bulan Sya’ban tanpa
bersambung dengan paruh pertamanya sehingga jika kita berpuasa tanggal 15
Sya’ban kita boleh berpuasa sunnah di tanggal 16, dan jika kita teruskan
setelahnya, kita boleh berpuasa di tanggal 17 dan seterusnya. Namun jika kita
tidak berpuasa di tanggal 16, kita haram berpuasa di tanggal 17 dan seterusnya.
Semoga malam nisfu Sya’ban ini kita semua mendapat ampunan dari Allah swt. juga
rahmat dari-Nya serta kita disehatkan lahir dan batin khususnya musim-musim
pandemi ini semoga cepat berlalu.
Referensi:
1. As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Abwabul-Faraj
2. Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas, Tadzkirun-Nas
3. Asy-Syaikh Zainuddin Al-Malibary, Fathul-Mu’in

Posting Komentar
Posting Komentar